![]() |
| ILUSTRASI. Gempa |
SULUT AMANAH INDONESIA, KEPULAUAN SANGIHE -- Aktivitas gempa bumi di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, masih terus berlangsung setelah gempa utama yang mengguncang kawasan Laut Sulawesi dan Filipina selatan. Dalam beberapa jam terakhir, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 15 gempa susulan yang terjadi di sekitar wilayah Tahuna.
Meski seluruh gempa susulan tersebut dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami, warga tetap diminta meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, gempa susulan dapat memperburuk kerusakan bangunan yang sebelumnya telah terdampak guncangan gempa utama.
BMKG Catat 15 Gempa Susulan
BMKG melaporkan aktivitas gempa susulan terus terdeteksi sejak Senin malam hingga Selasa dini hari di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Kekuatan gempa bervariasi antara magnitudo 3,8 hingga 4,9.
Gempa susulan terbaru tercatat berkekuatan magnitudo 4,1 dengan pusat gempa berada pada koordinat 5,45 derajat Lintang Utara dan 125,40 derajat Bujur Timur pada kedalaman 10 kilometer.
Meski frekuensi gempa masih cukup tinggi, BMKG memastikan seluruh rangkaian gempa susulan tersebut tidak berpotensi memicu tsunami.
Namun masyarakat diimbau tetap mengikuti perkembangan informasi resmi karena data awal gempa dapat diperbarui setelah proses analisis lebih lanjut.
Mengapa Gempa Susulan Terus Terjadi?
Gempa susulan merupakan fenomena yang umum terjadi setelah gempa utama dengan kekuatan cukup besar.
Secara ilmiah, gempa susulan terjadi karena kerak bumi dan batuan di sekitar zona patahan masih melakukan penyesuaian setelah pelepasan energi pada gempa utama.
Semakin besar energi yang dilepaskan saat gempa utama, semakin besar pula kemungkinan munculnya gempa susulan dalam beberapa hari hingga beberapa pekan berikutnya.
Kondisi ini menunjukkan aktivitas tektonik di kawasan utara Sulawesi masih berlangsung dan terus dipantau oleh BMKG.
Gempa M 5,3 Sempat Guncang Tahuna
Sebelumnya, wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe diguncang gempa berkekuatan magnitudo 5,3 pada Senin malam sekitar pukul 21.53 WIB.
Gempa tersebut berpusat pada koordinat 5,65 derajat Lintang Utara dan 124,80 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer.
Episenter gempa berada sekitar 239 kilometer dari Kecamatan Tahuna.
Meskipun getarannya dirasakan warga, BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Risiko Terbesar Saat Ini Adalah Bangunan yang Melemah
Dalam situasi pascagempa, ancaman utama bukan hanya berasal dari guncangan susulan, tetapi juga kondisi bangunan yang mungkin sudah mengalami kerusakan.
Retakan pada dinding, fondasi, maupun struktur bangunan dapat bertambah parah apabila terjadi gempa susulan, meskipun magnitudonya tidak sebesar gempa utama.
Karena itu, warga yang rumahnya mengalami kerusakan disarankan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum kembali menempatinya.
Pemeriksaan struktur bangunan menjadi langkah penting untuk menghindari risiko yang lebih besar apabila gempa susulan masih terjadi.
BMKG Imbau Warga Tidak Terpengaruh Informasi Hoaks
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar tanpa sumber resmi, terutama terkait prediksi gempa maupun tsunami.
Informasi mengenai aktivitas gempa sebaiknya hanya diperoleh melalui kanal resmi BMKG dan pemerintah daerah setempat.
Langkah ini penting untuk mencegah kepanikan dan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat.
Aktivitas Seismik Masih Dipantau Intensif
Meskipun peringatan tsunami telah dipastikan tidak ada, aktivitas gempa di wilayah utara Sulawesi masih menjadi perhatian para ahli kebencanaan.
Rangkaian gempa susulan yang terus terjadi menunjukkan proses pelepasan energi di bawah permukaan bumi belum sepenuhnya berakhir.
Karena itu, BMKG akan terus melakukan pemantauan intensif dan memberikan pembaruan apabila terdapat perkembangan baru.
Bagi masyarakat Kepulauan Sangihe dan wilayah sekitarnya, kewaspadaan tetap diperlukan. Fokus utama saat ini bukan pada ancaman tsunami, melainkan pada kemungkinan gempa susulan yang masih dapat terjadi dan dampaknya terhadap bangunan maupun aktivitas warga sehari-hari.

