Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Gempa M 7,7 Mindanao Guncang Manado dan Tahuna, BMKG Aktifkan Peringatan Tsunami

ILUSTRASI. Gempa
SULUT AMANAH INDONESIA, MANADO -- Guncangan hebat dari gempa tektonik bermagnitudo 7,7 yang berpusat di Mindanao, Filipina, pada Senin pagi dirasakan secara nyata oleh masyarakat di belahan utara Indonesia. 

Di Kepulauan Sangihe, getaran terasa cukup kuat hingga membuat sebagian besar warga yang berada di dalam rumah berhamburan keluar karena panik.

Sementara di Manado, getaran dengan skala III MMI membuat benda-benda gantung bergoyang dan memicu alarm kewaspadaan di kawasan pesisir. 

Meski sejauh ini belum ada laporan mengenai kerusakan struktural bangunan di ibu kota Sulawesi Utara tersebut, posisi gempa yang berada di laut dengan kedalaman dangkal di kedalaman 47 kilometer memaksa otoritas kebencanaan untuk segera mengaktifkan protokol keselamatan tsunami.

Dari Parameter Awal hingga Potensi Ancaman Laut

Detik-detik pascagempa sempat diwarnai ketegangan ketika sistem pemantauan otomatis mencatat kekuatan awal yang sangat masif, yakni bermagnitudo 8,2. 

Namun, setelah tim analis seismologi BMKG melakukan kalkulasi ulang dengan data yang lebih komprehensif, parameter tersebut direvisi menjadi M7,7. Perubahan angka ini jamak terjadi dalam menit-menit pertama bencana seiring masuknya gelombang data sekunder dari berbagai stasiun geofisika.

Kendati mengalami penurunan magnitudo dalam rilis revisi, karakteristik gempa tektonik ini tetap dikategorikan sebagai gempa dangkal yang memiliki energi cukup besar untuk mengusik kolom air laut. Berjarak sekitar 244 kilometer di sebelah barat laut Pulau Karatung, episenter gempa ini berada di jalur pertemuan lempeng-lempeng besar dunia—kawasan seismik aktif yang memang menjadi bagian dari lingkaran Ring of Fire Pasifik.

Memori Kelam April dan Kesiagaan Pesisir

Ketakutan warga di wilayah Sulawesi Utara bukan tanpa alasan. Wilayah ini masih menyimpan trauma kolektif yang cukup segar dari peristiwa dua bulan lalu, tepatnya pada 2 April 2026, ketika gempa bermagnitudo 7,6 di Laut Maluku mengguncang Bitung dan Minahasa hingga memicu kepanikan evakuasi massal.

Belajar dari pengalaman tersebut, BMKG kali ini mengeluarkan imbauan yang lebih tegas, khususnya bagi penduduk di Kepulauan Sangihe dan Talaud. 

Warga diminta untuk segera menjauhi area pantai serta bantaran muara sungai tanpa harus menunggu instruksi berbelit-belit. Karakteristik gelombang tsunami yang bisa menjalar cepat melalui teluk dan aliran sungai menjadikannya ancaman tak terlihat yang sangat mematikan.

Ancaman Kumulatif Gempa Susulan

Situasi di bawah laut Mindanao dipastikan belum sepenuhnya stabil. Hingga laporan ini diturunkan, InaTEWS telah menangkap dua riak aftershock atau gempa susulan yang kekuatannya tergolong besar, masing-masing menyentuh angka M6,7 dan M5,9.

Rentetan getaran susulan ini membawa risiko bahaya sekunder yang tidak boleh diremehkan. Rumah atau fasilitas publik yang strukturnya sudah mengalami keretakan akibat guncangan utama bisa roboh sewaktu-waktu jika terus-menerus dihantam gempa susulan. Sebelum kembali ke dalam rumah, masyarakat sangat disarankan untuk memeriksa kelayakan fisik bangunan secara mandiri dan tetap memantau pembaruan data secara berkala melalui aplikasi resmi InfoBMKG.

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Gempa M 7,7 Mindanao Guncang Manado dan Tahuna, BMKG Aktifkan Peringatan Tsunami
  • Gempa M 7,7 Mindanao Guncang Manado dan Tahuna, BMKG Aktifkan Peringatan Tsunami
  • Gempa M 7,7 Mindanao Guncang Manado dan Tahuna, BMKG Aktifkan Peringatan Tsunami
  • Gempa M 7,7 Mindanao Guncang Manado dan Tahuna, BMKG Aktifkan Peringatan Tsunami
  • Gempa M 7,7 Mindanao Guncang Manado dan Tahuna, BMKG Aktifkan Peringatan Tsunami
  • Gempa M 7,7 Mindanao Guncang Manado dan Tahuna, BMKG Aktifkan Peringatan Tsunami
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad